Sunday, July 31, 2011

Salam Ramadhan al-Mubarak



Bulan Ramadhan atau Ramadan Al-Mubarak adalah merupakan bulan yang ke-9 dan bulan paling suci di dalam kalendar Islam. Seperti bulan Islam lain, bulan ini mempunyai 29 atau 30 hari. Pada bulan ini umat Islam ini diwajibkan berpuasa seperti yang termaktub dalam al-Qur'an yang bermaksud:
“Bulan Ramadan, yang di dalamnya diturunkan al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan yang menjelaskan petunjuk dan (menjelaskan) perbezaan (antara yang benar dan salah). Oleh itu, barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah dia berpuasa pada bulan itu.”(Al-Baqarah 185)
Bulan Ramadhan merupakan masa untuk umat Islam berfikir dan merenung diri sendiri, bersolat, membuat kebajikan dan meluangkan masa dengan keluarga serta sahabat handai. Bulan Ramadhan juga yang mempunyai banyak kelebihan. Kedatangannya selepas dua bulan yang juga tidak kurang keistimewaannya iaitu Rejab dan Sya'ban. Bagi tujuan menyuburkan rasa tanggungjawab dan rasa ingin menambahkan ibadat kepada Allah sepanjang Ramadhan ini. Abu Hurairah meriwayatkan: Rasulullah S.A.W telah bersabda yang bermaksud : 


“Apabila telah tibanya Ramadhan, dibuka pintu-pintu syurga dan ditutup segala pintu neraka dan diikat segala syaitan”.

Firman Allah S.W.T :

 “ Sesungguhnya Kami telah turunkan (al-Quran) pada malam Lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apakah malamkemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan . Pada malam itu, turun para malaikat dan Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan . sejahteralah Malam (yang berkat) itu hingga terbit fajar”. (Suratul qadr:1-5)
Ramadhan telah di bahagikan kepada 3 bahagian oleh Rasullullah S.A.W. iaitu yang di awalnya rahmat,di tengahnya keampunan dan di akhirnya terlepas dari api neraka.
Syariat berpuasa di bulan ramadhan.
Firman Allah s.w.t :
"Wahai orang-orang yang beriman Diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu,supaya kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa." (S.al-Baqarah:183)
Puasa menurut syariat ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa (seperti makan, minum, hubungan kelamin, dan sebagainya) dari terbitnya fajar sehingga terbenamnya matahari.Disertai niat ibadah kepada Allah.
Puasa Ramadhan akan membersihkan rohani kita dengan menanamkan perasaan kesabaran, kasih sayang, pemurah, berkata benar, ikhlas, disiplin, terthindar dari sifat tamak dan rakus, percaya pada diri sendiri dan sebagainya.
Rasullah s.a.w.bersabda:
 
"Bukanlah puasa itu hanya sekedar menghentikan makan dan minum tetapi puasa itu ialah menghentikan omong-omong kosong dan kata-kata kotor." (H.R.Ibnu Khuzaimah).

Selamat menjalani ibadah puasa..Wallahhua’lam.

Wednesday, June 29, 2011

BERSIH! satu tuntutan

“Sesungguhnya mendapat kemenanganlah orang yang membersihkan dirinya “
QS Al A’la ayat : 14
Dalam Islam, kebersihan adalah bersifat global atau luas. Ertinya kebersihan itu meliputi semua aspek dalam Islam. Barangsiapa benar-benar dapat mengamalkan kebersihan yang global secara Islam ini maka oleh Allah mereka dijanjikan kemenangan baik di dunia terlebih lagi di akhirat.
Kebersihan menurut Islam yaitu :
 

1.Kebersihan I’tiqad atau Akidah.
Kebersihan dalam aspek ini adalah yang paling utama, yaitu kebersihan aqidah dari syirik atau kekufuran. Jangan sampai aqidah kita tidak bersih, baik kepada Zat Allah, Sifat Allah, maupun perbuatan-Nya. Seringkali kita terjebak secara tidak sadar dalam hal-hal kecil, dimana jika tidak kita pahami secara i’tiqad maka hal-hal kecil itu dapat menjerumuskan kita kepada syirik khafi ( halus ). Atau kita sering bimbang dengan rezeki kita, padahal selama kita masih hidup Allah telah menjamin rezeki kita. Atau kita tidak yakin dengan ketentuan Allah, kita tidak redha dengan apa yang Allah telah tentukan kepada kita.

2.Bersih dari sifat Mazmumah
Mazmumah ada 2 jenis yaitu mazmumah atau sifat tercela terhadap Allah dan mazmumah terhadap sesama manusia, yaitu
Antara penyakit hati (mazmumah ) terhadap Allah adalah :
Tidak khusyuk beribadah, Lalai dari mengingat Allah,Tidak yakin dengan Allah,Tidak ikhlas dengan Allah,Tidak takut pada ancaman Allah,Tidak harap pada rahmat Allah,Tidak redha akan takdir Allah,Tidak puas dengan pemberian Allah,Tidak sabar atas ujian Allah, Tidak bersyukur atas nikmat Allah,Tidak terasa diawasi Allah,Tidak terasa kehebatan Allah,Tidak rindu dan cinta dengan Allah,Tidak tawakal pada Allah,Tidak rindu pada syurga dan tidak takut neraka,Gila dunia, membuang waktu dengan sia-sia,Penakut (takut pada selain Allah),Ujub,Riya’,Gila pujian dan kemasyhuran.

Manakala mazmumah terhadap sesama manusia diantaranya, adalah :
Benci membenci,Rasa gembira kalau dia mendapat celaka dan rasa sedih kalau dia berhasil, Medoakan kejatuhannya,Tidak mahu minta maaf dan tidak memaafkan kesalahannya,Hasad dengki,Dendam,Bakhil,Buruk sangka,Tidak berlapang dada,Tiada ketenangan diri,Tidak tolong-menolong,Tamak,Degil dan keras hati,Mementingkan diri sendiri,Sombong,Tidak sabar dengan manusia.

3.Bersih dari hawa Nafsu yang jahat.  Kita mesti bersih dari nafsu yang jahat, sebab nafsu itu kalau kita ikuti, maka Allah akan menganggap kita bertuhankan nafsu. Tuhan berfirman, “Tidakkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan?.” di firman yang lain Allah menyebutkan “ sejahat-jahat manusia adalah yang menuruti kehendak hawa nafsunya” .Nafsu adalah kehendak dalam diri manusia yang Allah ciptakan berupa fitrah, baik itu kehendak yang sesuai dengan syariat atau yang bertentangan dengan syariat. Kewajiban kita adalah membersihkan dan mendidik nafsu dari hal-hal yang melanggar syariat dengan cara melawan nafsu ( mujahadatun nafsi ) yang jahat diiringi dengan menyuburkan kehendak-kehendak yang sesuai dengan kehendak yang Allah redhai

4. Perkara yang lahiriah juga mesti terbebas atau bersih dari hal-hal yang makruh terlebih lagi yang haram.Iaitu kebersihan makanan, minuman, tempat tinggal, pakaian, rumah, tempat mandi dan sebagainya.

5. Kebersihan pergaulan dari terlibat pergaulan yang makruh atapun haram, bergaul bebas tanpa ada batasan syariat dan sebagainya.

6. Bersih di sudut ibadah,
misalnya bersih dari 3 jenis najis,bersih dari najis aini dan najis hukmi. Wajib bersih juga dari hadas besar dan hadas kecil, dari hal-hal yang menjijikan seperti kotoran hidung, kotoran mata, kotoran telinga. Hidarkan solat dengan pakaian yang tidak kemas dan rapi atau pakaian yang ala kadarnya, walaupun tidak najis tapi kita depan Tuhan. Bila mahu bertemu raja saja, kita bersih, wangi, pakai make up sedangkan dengan Allah kita ala kadar sahaja. Secara tidak sedar kita sudah mengecilkan Tuhan atau tidak beradab dengan Tuhan.

7. Kebersihan akal dari ideologi
Zaman solafussoleh dahulu umat Islam tidak ada ideologi-ideologi seperti masa ini. Ideologi adalah cara atau sistem hidup yang direka oleh manusia yang tidak ada kaitannya dengan wahyu. Bersih dari Ideologi ertinya jangan kita jadikan ideologi sebagai pegangan, sebagai agama,sebagai cara hidup.Tanpa terkecuali, seperti komunis, nasionalis, kapitalis, sosialis, demokrasi dsb. Sebagai ilmu tidak mengapa belajar ideologi, tapi jangan kita jadikan sebagai pegangan hidup. Karena hanya Islam saja merupakan sistem hidup yang diredhai Allah. Begitu juga ekonomi kita, pendidikan kita, hendaklah bersih dari sekulerisme, dari riba, penindasan, terutama pendidikan mesti bersih sebab pendidikan sangat mencorak jiwa peribadi dan pendirian kita. Jangan sampai pendidikan kita bercorak sekular.

Diantara yang berbahaya dalam pendidikan sekular yaitu mengesampingkan Tuhan, Allah tidak dimasukkan dalam setiap program pendidikan atau pendidikan tidak dikaitkan dengan Yang Maha Pencipta. Walaupun yang dipelajari perkara yang halal, akan tetapi akan jadi hasilnya menjadi haram bila Allah ditinggalkan atau dikesampingkan. Kita mungkin bertanya, “apa salahnya saya belajar matematik, sastera, sejarah,ekonomi,sains?” Jawabannya, Tidak salah. Jadi salahnya dimana? Salahnya iaitu jika itu semua tidak dikaitkan dengan Allah atau mengesampingkan Allah. Jadi dikarenakan tidak dikaitkan dengan Allah, ilmu-ilmu yang tidak salah tadi menjadi salah.Kenapa? Sebab jika mengesampingkan Allah maka sains jadi Tuhan, matematik jadi Tuhan, walaupun tidak menyebut itu Tuhan. kesannya ialah semakin maju peradaban, semakin canggih teknologi, semakin gagah pembangunan material maka semakin rosak akhlak dan moral manusia, semakin banyak terjadi kejahatan dan peperangan.

Jadi kebersihan menurut Islam, menurut kehendak Allah itu bersifat global. Marilah kita mengukur diri kita. Mungkin kita sudah menjaga kebersihan akidah dan ibadah, tapi pendidikan, ekonomi, akal dan pergaulan belum bersih. Atau misalnya walaupun tidak ikut ideologi, tapi kalau kita membesarkan dan memuja akal, pergaulan kita masih bebas, ekonomi masih terlibat riba dan kapitalis artinya kita belum bersih juga.

Agama Islam hendaklah bersih dalam semua aspek. Kita dapat melihat diri kita hanya bersih dalam beberapa aspek saja. Yang lain belum tentu. Itupun misalnya di sudut ibadah, setelah diperiksa rumah-rumah kita, belum bersih. Tempat Solatnya, bilik mandinya, tandasnya, bilik tidurnya dan sebagainya.

Sebenarnya begitu suruhan Allah tentang kebersihan ini. Tentang kebersihan ini pun kita masih gagal, sedangkan dalam ajaran Islam kebersihan sangat penting. Marilah kita berusaha sungguh-sungguh menjaga kebersihan dalam semua aspek untuk mendapat kemenangan di dunia dan Akhirat. Semoga Allah menilai usaha kita nanti.Amin..

Friday, June 10, 2011

jiwa yang celaru

Sering berbangkit polemik atau perbincangan tentang apakah maksud Islam yang sebenar. Para remaja kadang-kadang menjadi keliru dan celaru untuk cuba memahaminya. Ada orang berpendapat Islam harus mengikut zaman, bukan zaman mengikuti Islam. Yang lain berpendapat bahawa ajaran Islam harus berubah supaya ia selari dengan perubahan terkini.

Sesetengah menyatakan bahawa kita harus bersifat liberal. Sebahagian lain pula berpendapat bahawa kemajuan diukur kepada perkembangan semasa. Yang lalu itu sudah ketinggalan zaman. Malah setengahnya pula berpendapat terlalu Islam boleh menyekat kemajuan dan perubahan.

Islam adalah agama yang hidup.

Yang menjadikan umat Islam mempunyai tanggapan yang berbeza ialah jenis ilmu yang dipelajari, skop ilmu yang diketahui dan orientasi keilmuan yang dijalani.

Sesetengah orang Islam memahami Islam sebagai agama warisan dan keturunan. Yang lain menghubungkan Islam sebagai agama ibadah khusus dan tidak ada kena mengena dengan pembangunan sistem. Lalu agama itu ialah sembahyang, doa, zikir, zakat dan sedakah semata-mata. Sedangkan roh solat dan doa, zikir dan zakat sepatutnya memberi kesan penghayatan menerusi amal dan ibadah yang menyangkut tentang ilmu, teknologi dan juga sistem.

Integratif

Tidak berbangkit Islam menyebabkan kemunduran. Kemunduran berpunca kelemahan dan kealpaan kita melihat agama ini sebagai sumber tamadun suatu ketika dulu. Dalam masa yang sama kita tidak bersifat reflektif terhadap faktor-faktor yang membangunkan tamadun silam.

Sumber kekuatan Islam terletak pada kehebatan ajarannya dan ketangkasan pemeluknya. Sejak zaman Nabi, para sahabat, tabie-tabiin dan salaf al soleh, umat Islam berada di barisan depan dalam mengembangkan ajaran dan memperkasa pemeluknya.

Antara sumber kekuatan Islam ialah ilmu yang berkembang amat integratif. Ilmuwan seperti Ibn Nafis, Ibn Sina, al Khawarizmi, al Batani, al Khawarizmi dan ramai lagi membangunkan ilmu tidak saja membangunkan faktor naqliahnya atau wahyu dalam peribadi dan diri tetapi membangunkan secara aqliah dalam sistem.

Mereka memiliki keupayaan berfikir yang tinggi, melakukan ijtihad, terbuka untuk mempelajari sumber kekuatan orang lain dan mempunyai upaya menyaring yang tinggi yang menyebabkan kreativiti dan inovasi berlaku.

Islam yang sebenar ialah Islam yang menjadikan al-Quran dan al-sunah sebagai sumber ilmu dan pedoman hukum, sumber sains dan juga pemikiran, sumber prinsip dan juga petunjuk, sumber kisah dan juga ibrah, sumber khabar gembira dan juga peringatan.

Ia dipelajari dan dihayati sehingga melahirkan peribadi teladan yang tidak menolak keperluan dan kepentingan syarak dipertahankan. Dalam masa yang sama, memberi ruang kepada fuqaha atau ahli fikah menghubungkan kaedah syarak dalam memahami faktor zaman dan cabaran lingkungan dan memberikan jawapan terhadap isu dan persoalan semasa yang berbangkit.

Dinamika Islam menjadikan ilmu yang integratif sebagai sumber utama, ilmu-ilmu yang bermanfaat dari sumber lain sebagai faktor berbanding dan menghasilkan alternatif yang terkini bagi menghadapi situasi yang ada. Dukungan faktor-faktor ini menyebabkan lahirnya institusi dan organisasi yang sifatnya semasa tetapi mengguna pakai kaedah syarak yang terdapat dalam Islam.

Yang menjadi masalah bagi umat Islam kini ialah ilmu tidak dibangunkan secara integratif. Keupayaan berfikir tidak berkembang. Kehebatan melakukan tadabbur atau kaji selidik tidak berlaku. Metodologi baru dalam dakwah, pengajaran dan pembelajaran tidak dijadikan fokus.

Penghasilan karya-karya dan tulisan-tulisan yang menangani isu besar tidak banyak. Akhirnya meletakkan umat Islam bergantung kepada kekuatan Barat untuk memajukan dirinya.

Umat Islam tidak boleh mengambil semuanya dari Barat tanpa ada saringan. Orientasi Barat dalam proses pengilmuan dan pendidikan tidak semuanya mendukung kepentingan nilai dan mengembalikan manusia kepada kedekatannya dengan Pencipta.

Agama dilihat sebagai sesuatu yang dogmatik. Agama bukanlah sesuatu yang rasional dan saintifik. Akhirnya faham sekular berkembang.

Remaja Islam harus memiliki rujukan sumber dalam memahami perubahan zaman dan juga cabaran lingkungan. Atas nama Islam, al-Quran dan al-sunah adalah sumber utama dalam proses pengilmuan dan kemajuan.

Tradisi tafasir yang ada, kaedah fikah yang terdapat, proses ijtihad dan ijmak yang pernah ada, keupayaan berfikir yang tidak bercanggah adalah antara asas-asas yang boleh membimbing remaja ke arah memahami Islam yang sebenar.

Interaksi

Remaja Islam harus terlebih dahulu mempelajari agamanya. Sebabnya asas agama dalam dimensi akidah yang luas, pemahaman ibadah yang komprehensif, pengertian syariah yang membimbing kebijaksanaan dan keunggulan akhlak yang mecerminkan teladan dan sumber ikutan adalah asas-asas yang boleh mendukung dan memajukan Islam sebenar. Tidak timbul isu moden dan liberal dalam memahami proses kemajuan tamadun.

Keterbukaan generasi muda mempelajari perkara baru mestilah dalam semangat ia tidak bercanggah dengan faktor syarak. Darinya akan lahir olahan bijaksana bagaimana prinsip dalam al-Quran dan al-sunah mendepani faktor zaman yang sifatnya dinamik. Lalu tradisi Islam yang mengungkap kecemerlangan mampu menjadi penyumbang ke arah kemajuan dan perubahan yang lebih bermakna.

Model-model Islam perlu melakukan interaksi dengan budaya semasa. Islam juga harus memberi pedoman tentang jalan komunikasi dan telekomunikasi yang senafas dengan syarak.

Oleh itu, generasi muda harus bersedia belajar melakukan sinergi atau gabungan antara faktor-faktor tradisi dengan faktor terkini. Darinya bakal lahir sesuatu yang lebih bermakna dan mampu memberi jawapan terhadap keperluan semasa.

Islam yang sebenar ialah agama yang tidak menjadikan dirinya sebagai celupan orang lain. Faham liberal dan sekular yang menjadi tunjang perubahan dan kemajuan di Barat tidak semestinya menjadi rujukan mutlak.

Oleh itu, dengan perkembangan sains dan teknologi terkini, proses perubahan dan kemajuan terkini tidak seharusnya menjadikan remaja gamam atau terpukau sehingga lupa terhadap tradisi dan kekuatan agamanya.

Model Rasulullah s.a.w di Madinah berkembang dan menghasilkan Baitul Hikmah yang amat dikagumi, Andalusia yang menjadi rujukan Barat dan Timur dan melayakkan umat Islam sebagai penyumbang terhadap kemajuan yang sebenar terhadap Barat dan Timur.

Selepas 700 tahun umat Islam terjajah sudah tentu banyak kesan negatif yang berlaku khususnya di kalangan generasi muda yang menjadi sasaran globalisasi budaya yang sedang berlaku.

Sekiranya para remaja menginsafi bahawa Islam memiliki tamadun kukuh untuk dilakukan upaya reflektif yang tinggi, umat Islam akan berada di landasan yang benar. 


PROF. DR. SIDEK BABA

Friday, May 20, 2011

Minda yang dikelirukan

Dalam keadaan dunia sekarang, banyak kekeliruan yang berlaku dan meracuni pemikiran masyarakat. Dunia telah dikuasai oleh media yang dinaungi oleh pihak-pihak yang tertentu  dalam mendidik masyarakat. Ini kerana masyarakat sekarang mejadikan media sebagai tempat untuk  mendapatkan pengetahuan kerana ianya lebih mudah tanpa perlu bersusah payah mendapatkan bahan merujukan yang lebih sahih kebenarannya. Oleh itu, masyarakat yang tidak berilmu mudah dipengaruhi oleh media kerana tiada asas-asas pengetahuan yang sempurna. 
Di sini, saya bukanlah ingan bincang tentang isu media, tetapi salah satu kesan yang disebabkan perkara tersebut. Saya ingin membincangkan tentang makna pembanggunan masyarakat yang sebenar. Sesetengah pihak menyatakan bahawa hanya pihak tertentu sahaja yang sebenarnya yang boleh membawa pembangunan. Pembangunan yang kita lihat di bumi Malaysia ini berupa bangunan-bangunan, masjid, LRT, Komuter dan perubahan hidup rakyat berbanding dari dahulu hingga sekarang. Pembangunan yang dibanggakan dan dicanangkan sehingga raja rimba pun mengetahuinya. Masyarakat yang kurang memahami apa ertinya pembangunan ini kadang-kadang terhibur dan tertarik dengan hidangan fatamorgana ini. Penulis sebagai seorang pelajar kadang-kadang terkeliru dengan pihak tertentu yang mempunyai gelaran professor, doktor dan jurutera ini mendefinasikan tentang erti sebenar pembangunan. sedangkan golongan inilah yang mejadi contoh teladan kepada masyarakat. Rakyat seolah-olah tidak mengetahui dan keliru tentang erti sebenar pembangunan. Pembangunan yang dicanang hanya di sudut barat sahaja.
Persoalannya sekarang, apakah yang dimaksudkan dengan pembangunan? Terutamanya dari perspektif islam.  Sebenarnya, Pembangunan dari segi bahasa bermaksud usaha atau kegiatan membangunkan, memajukan atau mengembangkan. Pembangunan juga sering diertikan dengan perubahan, pemodenan dan mobilisasi. Dalam bahasa Inggeris pembangunan disebut development iaitu perihal mengembangkan, perkembangan, kemajuan dan pembangunan (Kamus Dwibahasa, 1999). Manakala dalam bahasa Arab disebut dengan istilah al-taqaddum yang bermaksud kemajuan atau tatawwur yang bererti berkembang (Munawwir,1997).
Dari segi istilah, pembangunan boleh didefinisikan sebagai usaha membangunkan potensi yang ada pada diri manusia dan persekitaran bagi mencapai kecemerlangan di dunia dan mencapai hasanah di akhirat. Walau bagaimanapun sehingga kini konsep pembangunan masih kurang jelas dan samar, menyebabkan ia sering dibataskan pengertiannya kepada sesuatu yang berunsur material dan keduniaan (seperti politik, sosial, ekonomi, pentadbiran dan lain-lain) semata-mata.
Saya suka untuk membawa pengertian pembangunan oleh Ziauddin Sardar yang mengatakan bahawa pembangunan dalam konteks Islam bermaksud keupayaan untuk mewujudkan ciri-ciri keislaman dalam diri individu, keluarga, masyarakat, ummah, dan juga negara. Beliau mengatakan semakin dekat sesebuah negara itu dengan Islam, semakin majulah negara tersebut dan begitulah sebaliknya. Beliau turut mengatakan pembangunan mengikut perspektif Islam bermaksud pengucapan dinamisme budaya yang dinyatakan oleh keinginan umat untuk berada dalam keadaan Islam.
Kadang-kadang umat islam sendiri keliru dan kurang jelas atau tidak mahu belajar untuk diperjelaskan tentang bentuk dan pendekatan pembangunan dalam Islam. Sebenarnya, salah satu juzuk pembangunan adalah konsep tawazun (keseimbangan). Tawazun atau keseimbangan ini merupakan pengimbangan yang perlu ada dalam diri individu dimana individu yang dapat menghayati pembangunan yang berkonsep tawazun ini adalah pembangunan yang mengimbangi antara dunia dan akhirat. Sesebuah negara yang bangga dengan pembangunan merupakan pembangunan yang mengadunkan antara pembangunan material dan pembangunan spritual. Jadi Pencapaian pembangunan yang al-falah hanya diperolehi apabila kedua-dua unsur tersebut dipenuhi.
Sepatutnya semua umat islam perlu memahami tentang aspek Pembangunan Islam yang perlu digarap dalam diri manusia. Pembangunan yang dimaksudkan merupakan pembangunan jasad (fizikal) dan pembangunan roh (spritual: jiwa, akal,intelek, budi, emosi dan lain-lain). Pembangunan jasad dan roh inilah yang pertama sekali perlu dibangunkan. Setelah kedua-dua kombinasi ini dibangunkan dengan telus dan efisien, maka secara langsung pembangunan di luar diri manusia iaitu kebendaan (meterial) seperti ekonomi, politik, sosial, Ilmu pengetahuan dan falsafah, peradaban dan sains dan teknologi akan dapat dibangunkan dengan baik.
Sebagai umat Islam kita perlu melihat pembangunan dari perspektif taqwa atau pendekatan yang lebih islamik dimana menganggap pembangunan sebagai satu ibadat iaitu sebagai perlaksanaan tugas kekhalifahan manusia di bumi. Kita perlu mengambil perhatian khusus terhadap peranan al-nafs dan al-syaitan dalam melaksanakan aktiviti pembangunan. Dalam proses pembangunan kita perlu berhati-hati akan tindakan nafsu dan amalan syaitan dalam melaksanakan sesuatu proses pembangunan.
Sebenarnya kita perlu meningkatkan ilmu dan bukan sahaja menerima secara borong sesuatu maklumat atau andaian. Pembangunan yang berkesan adalah setelah kita boleh lihat rakyat di seluruh negara mempunyai sifat atau akhlak yang baik. Sesebuah negara yang mempunyai pembangunan yang cemerlang, harus dan seharusnya mempunyai rakyat yang tidak korup, kronism, jenayah yang rendah dan lain-lain. Pembangunan yang cemerlang apabila kita dapat melihat generasi muda mempunyai jatidiri dan budaya diri yang terpuji serta dapat dibanggai. Namun apa yang kita lihat sekarang, generasi muda negara menuju ka arah kebinasaan. Syed Qutb pernah mengatakan, jika ingin melihat masa depan negara, lihatlah generasi mudanya. Jika baik generasi mudanya maka, baiklah masa depan negara tersebut. Namun jika sebaliknya, pasti! Generasi muda itulah yang kita lihat hari ini. Oleh itu, masyarakat mestilah mencari bekalan ilmu yang secukupnya supaya dapat membangunkan diri dan negara mengikut konsep pembanggunan yang sebenar.




Saturday, April 9, 2011

Nilai Sebuah Persahabatan

“Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan Dia Yang mempersatukan hati-hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak akan dapat mempersatukan hati-hati mereka, akan tetapi 
Allah Subhanallahu wa Ta’ala telah mempersatukan hati-hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Anfal: 63)”

“Sesungguhnya Allah Subhanallahu wa Ta’ala akan berkata nanti pada hari kiamat: ‘Dimanakah orang-orang yang menjalin persaudaraan karena-Ku, maka pada hari ini Aku akan menaunginya pada hari dimana tidak ada sebuah naungan kecuali hanya naungan-Ku’.” (HR. Muslim)
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”[Al-Hujurat:1-10]
Ukhuwwah atas dasar akidah yang satu takkan dapat dileraikan sehingga ke syurga Allah swt. Sebagai seorang Islam kita yakin dengan ini. Betapa cantiknya Allah mengatur perasaan manusia. Perasaan kasih, sayang dan rindu kepada sahabat-sahabat dihargai dengan kemungkinan untuk bersama di syurga Allah swt. Tidak kira bagaimana sekalipun latar belakang masing-masing.
Hak dalam berUkhuwwah
Seorang mukmin yang memahami hak-hak sahabatnya akan sentiasa mencuba yang terbaik untuk menjadikan sahabat mereka sebagai asbab(penyebab) untuk mereka masuk ke dalam syurga Allah swt. Antara hak seorang mukmin ke atas sahabat seakidahnya yang lain adalah:
1. Hendaklah ia mencintai saudaranya semata-mata karena Allah Subhanallahu wa Ta’ala dan bukan karena tujuan-tujuan duniawi.
“…Dan yang ia mencintai saudaranya, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah Subhanallahu wa Ta’ala…” (Muttafaqun ‘alaihi)
2. Lebih mendahulukan untuk membantu saudaranya dengan apa yang mampu dari jiwa dan harta daripada dirinya sendiri.
Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (Al-Hasyr: 9)
3. Menjaga kehormatan dan harga diri saudaranya.
“Sesungguhnya darah-darah kalian dan harta-harta kalian serta kehormatan-kehormatan kalian haram atas kalian….” (HR. Al-Bukhari & Muslim)
“Hati-hatilah kalian dari prasangka, karena prasangka itu adalah sedusta-dusta ucapan.” (HR. Al-Bukhari & Muslim)
5. Menjauhi perdebatan dengan saudaranya.
“Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan sementara ia berada di pihak yang salah, maka akan dibangunkan sebuah rumah baginya di surga paling bawah. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan sementara ia berada pada pihak yang benar, maka akan dibangunkan baginya sebuah rumah di tengah surga…” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, danIbnu Majah)
6. Mengucapkan kalimat-kalimat yang baik kepada saudaranya.
7. Memaafkan atas kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh saudaranya.
Setiap orang pasti memiliki kesalahan. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam :
“Setiap keturunan Adam (manusia) pasti melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang yang bertaubat.” (HR. Ibnu Majah no. 4251)
8. Merasa gembira dengan kenikmatan yang Allah Subhanallahu wa Ta’ala berikan kepada saudaranya.
9. Saling membantu dengan saudaranya dalam perkara-perkara kebaikan.
Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (Al-Maidah: 2)
10. Bermusyawarah dan bersikap lemah lembut terhadap saudaranya.
“Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka.” (Asy-Syuura: 38)
Iman dan Ukhuwwah
Hakikatnya Iman dan Ukhuwwah takkan mungkin dapat dipisahkan. Hanya mereka yang benar-benar berIman dengan Allah dan RasulNya yang mampu untuk merealisasikan definisi sebenar dalam berukhuwwah itu. Iman yang tinggi menjadikan kita mampu untuk bersikap dengan nilaian tertinggi dalam ukhuwwah iaitu Ithar(melebihkan yang lain dari diri sendiri). Contoh terbesar adalah dalam peperangan Yarmouk bilamana ada 3 orang sahabat Nabi saw yang cedera parah dan nyawa-nyawa ikan sanggup untuk mendahulukan sahabat yang yang juga parah dan nyawa-nyawa ikan untuk minum air. Akhirnya ketiga-tiga mereka syahid kerana tidak sempat untuk meneguk seteguk air. Alangkah hebatnya mereka dalam melaksanakan ukhuwwah sesama mukmin itu. Bagaimana dengan kita?
Selemah-lemah Iman menyebabkan kita mampu melampirkan selemah-lemah nilaian tingkatan dalam ukhuwwah iaitu berlapang dada. Andai sesama sahabat pun tidak mampu berlapang dada, dimanakan kedudukan Iman kita sebenarnya? Tepuk dada tanya Iman masing-masing.
Marilah kita sama-sama menjaga ukhuwwah sesama sendiri supaya saling dapat bertemu di dalam syurga Allah swt kelak.
Bertemu berpisah kerana Allah swt.


Monday, April 4, 2011

kisah arnab dan kura-kura

Tersebutlah kisah arnab sedang berjalan-jalan mencari makanan. Tiba-tiba ia terpandang seekor kura-kura yg merangkak-rangkak naik ke tepi sungai.
“Alahai, kura-kura. Mengapalah engkau lambat sangat? Bila nak sampai tu?”
“Sedikit-sedikitlah arnab. Lama-lama  aku sampailah.” Jawab kura-kura.
“Hahaha…gelihati aku lihat cara engkau berjalan. Bilalah engkau nak sampai si tua lambat ni…ha..ha.”
“Jangan engkau hina aku arnab.”
“kalau lumba lari ni, engkau pasti kalah,” kata arnab.
“Belum cuba belum tahu arnab.” Jawab kura-kura.
“Baiklah aku cabar kau, siapa yg sampai dulu ke hutan sana, dia akan menang.”
“Baiklah. Aku terima cabaran kau,” jawab kura-kura.
Dan begitulah kisah itu bermula. Maka berlumbalah arnab dan kura-kura. Satu perlumbaan yang berat sebelah kelihatannya pada mata kasar justeru kaki, ketangkasan dan tenaga arnab jauh mengatasi kura-kura. Ya, setelah lebih separuh perlumbaan, kura-kura ditinggalkan jauh di belakang. Arnab terlampau yakin yang dia akan memenangi perkumbaan itu. Lalu berihat, dan akhirnya tertiudur. Namun babgi kura-kura dengan semangat,. Keyakinan dan kesungguhan dia terus merangkak dan akhirnya memenangi perlumbaan.  Begitulah cerita Arnab dan Kura-kura yang sudah  menjadi bahan bacaan hiburan kanak-kanak. Adakah ia hanya sekadar bacaan saja atau pendorong kanak-kanak itu berjaya? Sebenarnya banyak pengajaran yang boleh diambil dari cerita pendik ini.
Apa yang kita boleh ambil pengajaran daripada   cerita ini ialah jika hendak berjaya, bukanlah semestinya ada kepandaian. tidak semestinya  ada kekuatan. Tetapi yang penting ialah sikap. Mengikut kajian yang dibuat oleh pakar-pakar pendidikan, kepandaian seseorang, maklumat yang dimilikinya, hanya menyumbang 3 % sahaja kepada kejayaan seseorang. Selebihnya 97% lagi ditentukan oleh sikapnya. Dalam kisah tadi, jika diukur dari segi fizikal, tentulah arnab ini lebih tangkas lagi. Kakinya lebih panjang, tenaganya lebih banyak. Memang terbukti  ia sudah mendahului kura-kura dalam perlumbaan itu. Malangnya sikap arnab itu sendiri menyebabkan ia gagal.
Apakah sikap negatif yang ada pada arnab? Apa yang menyebabkan ia   gagal? Sikap itu ialah sambil lewa, sikap over confident, sikap bertangguh, sikap berpuas hati dan suka memandang rendah terhadap orang lain. Oleh kerana sikapnya tidak betul, walaupun bakatnya tinggi, walaupun tenaganya banyak, dan mungkinlebih pandai dari kura-kura, tetapi akhirnya arnab kalah dalam perlumbaannya dengan kura-kura kerana sikapnya yang negatif. Bagi kura-kura pula walaupun kakinya pendek dan tiada kekuatan seperti arnab, tetapi sikapnya betul. Sikap kura-kura ialah lawan kepada sikap arnab  tadi. Kura-kura ini nampak matlamatnya. Walaupun ia telah ketinggalan, tetapi matlamatnya sentiasa di hadapan. Ia tidak mengubah-ubah matlamatnya. Matlamat ia hendak menang dalam perlumbaan. Dan itu terus dipertahankannya hingga berjaya. Sebaliknya, arnab ini pula matlamatnya berubah-ubah. Apabila ia sampai di tengah jalan, matlamatnya berubah kepada hendak berehat yang kemudian tertidur.


Kedua, sikap kura-kura yang positif ialah konsisten ataupun istiqomah. Ia tetap meneruskan perlumbaan walau apapun terjadinya. Misalnya, walau ia telah ketinggalan, ia tetap merangkak juga. Inilah sikap istiqomah. Seterusnya, sikap kura-kura ialah sabar. Kura-kura mempunyai kesabaran tinggi dalam menempuh dugaan sepanjang perjalanan. Mungkin perjalanan itu terlalu jauh bagi ia sebab memang jauh. Jika dekat, masakan arnab boleh tertidur di tengah jalan. Walaupun begitu, kura-kura mecuba juga. Kura-kura tetap teruskan walaupun ia tidak nampak arnab di hadapan. Inilah sikap sabar.Kura-kura juga mempunyai harga diri yang tinggi. Sikap inilah yang menyebabkan ia menyahut cabaran arnab. Ia tidak mahu dihina. Semua sikap-sikap ini memberi kredit atau kelebihan kepada kura-kura. Dari segi   fizikalnya arnab lebih tangkas. Tetapi dari segi fizikal, mental, jiwa dan emosinya, kura-kura lebih stabil.
Perbandingan cerita arnab dan kura-kura ini boleh kita padankan dengan kehidupan manusia sebenarnya. Pertama, ada manusia yang kita lihat kadang-kadang mempunyai kecerdikan dan kekayaan yang pada zahirnya boleh menyebabkan mereka berjaya, tetapi tak berjaya juga dalam hidup. Kenapa? Ini kerana sikap mereka. Mungkin mereka ada sikap buruk seperti arnab  tadi. Mereka tidak konsisten, tiada harga diri, angkuh, berubah matlamat, terlalu yakin dan sebagainya.
Dalam pendidikan anak-anak, misalnya kita nampak seorang anak itu tidaklah mempunyai pemikiran yang tinggi. Kecerdikan ataupunIQ yang juga tidak tinggi tetapi jika dia mempunyai disiplin diri dan sikapnya betul seperti menepati waktu, mempunyai matlamat, berjiwa besar dan sebagainya, maka dialah yang akan berjaya. Sekalipun anak itu tiada bakat atau kepandaian, tetapi dia tampil lebih berjaya daripada anak yang lain yang mungkin lebih pandai tetapi malas, tiada keyakinan diri, tidak committed dalam melakukan dan sebagainya. Kita boleh belajar dari kisah arnab dan kura-kura ini.
Kedua, menerusi cerita ini kita tahu Allah swt tidak suka orang yang sombong. Orang sombong seperti arnab yang suka menghina orang lain, sebenarnya dia telah membuktikan bahawa dirinyalah yang  lebih hina daripada orang yang dihina itu. Seseorang telah menjatuhkan dirinya terlebih dahulu kalau dia menghina orang yang ingin dijatuhkannya dengan penghinaan itu. Sekiranya kita lihat seseorang itu miskin, ada kelemahan atau  kekurangan, maka Allah melarang kita menghina mereka. Sedangkan seseorang yang terang-terangan membuat kejahatan atau  penganiayaan, pun masih tidak boleh dipandang hina (mungkin disebabkan kejahilannya). Apa yang hina ialah perbuatannya sahaja bukan orangnya.
Apabila arnab memandang hina kura-kura, menunjukkan dia bersikap takbur dan sombong. Sebaliknya, kura-kura yang dihina pula, ia membela maruah diri dengan menyahut cabaran arnab itu. Dalam Islam, kalau orang menghina kita, janganlah kita balas dengan melawannya. Sebaliknya, bangunkanlah sikap ingin memajukan diri. Hinaan arnab terhadap kura-kura tidak menyebabkan kura-kura menghinanya balik, tetapi kura-kura berusaha untuk  membuktikan bahawa dirinya bukanlah seperti yang diperkatakan oleh arnab. Ia buktikan bahawa dia sebenarnya mempunyai kelebihan dan kekuatan dalaman.
Apa yang boleh kita belajar dalam kehidupan manusia ini ialah apabila seseorang itu mulai ego, dia telah memusnahkan dirinya sendiri. Oleh sebab itu apabila kita lihat sepanjang sejarah, misalnya dalam Al-Quran. Kisah Namrud, Firaun dan semua orang yang ego akan hancur akhirnya. Oleh itu, dalam hidup ini kita tidak boleh ego. Apakah yang dikatakan ego? Antara sifat ego ialah merasakan diri lebih baik daripada orang lain. Apabila merasakan diri baik, dari sudut perkembangan diri, tidak akan muncul lagi usaha hendak meningkatkan diri. Tidak timbul lagi dorongan untuk berjaya. Bagi kura-kura tadi, apabila menerima cemuhan, ia menjadi pendorong untuk lebih maju dan sebagainya.
Sekiranya kita padankan dengan permasalahan umat Islam kini, umat Islam dikatakan jauh ketinggalan dari kaca mata Barat. Simboliknya Barat adalah arnab dan umat Islam adalah kura-kura. Barat menghina kita kononnya Islam ini militan, mundur, dan sebagainya. Ini kerana Barat merasakan mereka hebat pada  teknologinya. Pendapatan per kapital dan hasil eksportnya tinggi. Oleh sebab itu, Amerika memandang hina kepada negara-negara Islam dan negara dunia ketiga. Peristiwa 11 September telah menghilangkan keegoan Barat yang mempunyai peralatan yang sophisticated, perisikan yang begitu canggih dan berkaedah saintifik tinggi, al hasil mereka masih tidak dapat mengesan atau menjangka apa yang akan berlaku serangan ke atas Pusat Dagangan New York dan Pentagon.  Sekelip mata ia hancur apabila kapalterbangnya dalam negara sendiri merempuhnya. Ini menunjukkan Amerika yang sombong tadi dihina oleh Allah disebabkan memandang rendah orang lain. Ia jadi arnab yang ‘dikalahkan’ oleh kura-kura.
Soalnya sekarang ialah apakah umat Islam boleh mencontohi sifat kura-kura yang istiqomah itu? Memang kita telah ketinggalan dari segi kebendaan dan pensenjataan, namun kita masih punya harga diri, apakah mereka boleh bangun balik dalam bidang ekonomi, politik, sains, hatta dalam bidang ketenteraan sekalipun. Apakah umat Islam bergerak seperti kura-kura, walaupun ketinggalan tetapi masih merangkak dan terus meluru  untuk mencapai kemenangan. Ini kerana race atau perlumbaan kita ini masih belum habis. Kini boleh di katakan, mungkin ini baru separuh atau pertengahan jalan. Walau bagaimanapun, umat Islam tidak boleh cepat mengalah dengan men yangka mereka tidak akan boleh menandingi Barat sebab perlumbaan masih lagi berlansung. Tambahan pula, kita masih tidak tahu lagi hujungnya di mana?
Kisah arnab dan kura ini mempunyai pengajaran yang amat besar. Ertinya umat Islam mesti mempunyai satu sikap yang betul. Di sinilah cabarannya. Unsur yang utama dalam membentuk sikap seseorang ialah keyakinan atau iman seseorang. Iman seseorang itu membentuk sistem nilai. Dan apabila iman mantap, sistem nilai kitapun mantap. Kita tahu mana yang baik dan mana yang buruk mengikut ukuran Tuhan, bukan mengikut ukuran kita. Ini dorongan yang kuat untuk kita sebab manusia ini akan terdorong melakukan sesuatu perkara mengikut nilainya. Jika sesuatu yang dibuat itu rasa baik dan menguntung, dia akan perbuat. Tetapi jika dia rasa itu membahayakan dan merugikan, dia tinggalkan. Dan yang hendak menentukan baik atau buruk ialah sistem nilai yang ada pada diri ialah keyakinannya. Oleh itu, jika kita boleh iman kita ubah dari goyah kepada mantap, keyakinan diri kita akan mantap, dan ini menjadikan sistem nilai kita menjadi kuat. Apabila sistem nilai kuat, dorongan untuk melakukan sesuatu yang baik adalah tinggi dan dorongan meninggalkan sesuatu yang buruk juga tinggi. Daripada inilah kita akan membentuk sikap yang betul. Maka gabungan  keyakinan, nilai, dorongan dan kelakuan (sikap) inilah yang akan membina kekuatan umat Islam semula. Inilah iktibar besar yang boleh kita ambil dari kisah kecil… ceita arnab dan kura-kura!  (petikan:Pahrol Mohamad Juoi)..